Senin, 05 Maret 2018

Ketika Tamara Mirip Dengan Dewi Kunti

 Latar Belakang Dewi Kunti
Kunti dalam wiracarita Mahabharata, adalah putri kandung Surasena, raja Wangsa Yadawa, dan diangkat sebagai putri oleh Kuntiboja. Ia merupakan saudara Basudewa, ayah dari Baladewa, Kresna, dan Subadra. Ia juga merupakan ibu kandung Yudistira, Werkodara (Bima), dan Arjuna dan juga adalah istri pertama Pandu yang sah.

Selain itu Kunti juga ibu kandung Karna. Sepeninggal Pandu, ia mengasuh Nakula dan Sadewa, anak Pandu dan Madrim. Seusai Bharatayuddha (Perang besar keluarga Bharata), ia dan iparnya Dretarastra, Gandari, dan Widura pergi bertapa sampai akhir hayatnya.

Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntibojayang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti.

Pada saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewi sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari, Kunti ingin mencoba anugerah tersebut dan memanggil salah satu Dewa, yaitu Surya. Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada Kunti, apa yang diinginkannya.

Namun Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar datang ke bumi namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan seorang putra kepada Kunti.

Kunti tidak ingin memiliki putra semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putra tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata; anak tersebut diberi nama Karna.

MENJADI MENANTU KERAJAAN HASTINAPURA

Kunti menikah dengan Pandu, seorang raja di Hastinapura, dalam sebuah sayembara. Pandu juga menikahi Madrim sebagai istri kedua, namun Pandu tidak mampu memiliki anak karena kutukan yang diterimanya setelah membunuh Resi Kindama tanpa sengaja.

Demi menebus kesalahannya, Pandu dan kedua istrinya hidup di hutan sebagai pertapa. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya. Ia memanggil tiga dewa dan meminta tiga putra dari mereka. Putra pertama diberi nama Yudistira dari Dewa Yama (atau Dewa Dharma), yang kedua bernama Bima dari Dewa Bayu, dan yang terakhir bernama Arjuna dari Dewa Indra.

Demi menjaga perasaan istri kedua Pandu, maka Kunti mengajarkan mantra tersebut kepada Madrim. Madrim memangil Dewa Aswindan menerima putra kembar, yang diberi nama Nakula dan Sadewa. Kelima putra Pandu tersebut dikenal dengan nama Pandawa. Setelah kematian Pandu dan Madrim, Kunti mengasuh kelima putra tersebut sendirian. Sesuai dengan amanat Madrim, Kunti berjanji akan memperlakukan Nakula dan Sadewa seperti putranya sendiri.

Selama kelima putranya pergi ke pengasingan selama 13 tahun, Kunti tinggal di rumah iparnya, Widura. Kisah Kunti juga tercantum dalam Bhagawatapurana, dan di sana ia muncul sebagai narator untuk suatu devosi Hindu yang dikenal dengan istilah Bhaktiyoga.

Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berkecamuk dan usianya sudah sangat tua, Kunti pergi ke hutan bersama dengan ipar-iparnya yang lain seperti Dretarastra, Widura, dan Gandari untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Mereka menyerahkan kerajaan kepada Yudistira. Di dalam hutan, Kunti dan yang lainnya terbakar oleh api suci mereka sendiri dan wafat di sana.
 Ciri-Ciri Fisik Dewi Kunti Dalam Pewayangan
Dewi Kunti tergolong tokoh putren luruh dengan posisi muka tumungkul. Bermata liyepan, hidung lancip dengan mulut salitan. Bermahkota gulung keling dengan hiasan jamang sadasaler, sumping prabangayun. Ada penggambaran sinom yang menghiasi dahinya.Tubuh berbusana putren dengan memakai semekan, pinjung dan sampir bermotif bludiran. Dodot yang dipakai bermotif parang rusak seling gurdha dengan kain panjang bermotif cindhe puspita. Tokoh ini ditampilkan polos tanpa perhiasan. Umumnya muka dan badan gembleng.

Sifat Atau Watak Dewi Kunti Yang Serupa Dengan Saya

Nama Lain : Dewi Kunthi Ratu Jimat,  Dewi Prita
Sifat           : Sikap kasih sayang, setia kepada laki-laki/suami, menyatu, bersama dan bergaul dengan lingkungan sekitar kita, memuat (momot), menjaga, membimbing dan mengasuh (anak).

Sumber :
  • https://id.testony.com/result/res/aHR0cHM6Ly9zdGF0aWMtcHJvZC50ZXN0b255LmNvbS9yZXN1bHRfaW1nL2Nmb0RlLTE2MTY0MzczMDg0MDc2MzlfaTg2NzI3aV9saWRsXy5qcGc=?p=eyJhIjoiMTYxNjQzNzMwODQwNzYzOSIsImIiOjEsImMiOjE1MjAyNTE0MjIsImQiOiJpZCIsImciOiJmIiwiZSI6NDU4ODc0LCJmIjoiS2FtdSBzZXBlcnRpIGhhbG55YSBEZXdpIEt1bnRpIHlhbmcgc2V0aWEsIHNhYmFyIGRhbiB3ZWxhcyBhc2loLiIsImgiOiJyIn0%3D#_=_
  • https://wayang.files.wordpress.com/2010/03/kunti.jpg
  • http://www.kuwaluhan.com/2017/08/sejarah-asal-usul-dewi-kunti-dan.html
  • http://nuradiwibowo02.blogspot.co.id/2014/12/tokoh-wayang-dewi-kunti.html
  • http://www.denundo.com/2014/05/sifat-watak-tokoh-wayang-mahabarata-3.html
  • kawruh-kejawen.blogspot.co.id/2010/01/?m=1
  • iwanmuljono.blogspot.co.id/2012/01/momor-momot-momong.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar