Senin, 12 Maret 2018

Kuliah Lapangan Ke Desa Wisata Ngringinan

Pada hari Sabtu tanggal 10 Maret 2018 saya beserta teman seangkatan Kepariwisataan 2016 mengadakan kunjungan ke Desa Wisata Ngringinan guna memenuhi kebutuhan kuliah lapangan Manajemen Desa Wisata yang nantinya outputnya akan diselenggarakan semacam pengabdian masyarakat guna memenuhi nilai Ujian Akhir Semester 4. Desa Wisata Ngringinan dipilih sebagai tempat merealisasikan proyek ini dikarenakan desa wisata ini telah bekerjasama dengan prodi atau bahkan menjadi salah satu desa wisata binaan Prodi D3 Kepariwisataan SV UGM.

Desa Wisata Ngringinan terletak di Bantul dan bila anda berkunjung ke Desa Wisata Ngringinan anda dapat melihat Bantul dari sisi yang berbeda karena anda akan diajak menelusuri Bantul pada zaman penjajahan Belanda. Di sini ada salahh satu atraksi yang terkenal yaitu Museum Bantul Pada Masa Penjajahan Belanda yang di dalamnya terdapat berbagai macam foto yang menggambarkan kejadian pada masa penjajahan Belanda kala itu, dan di keterangan fotonya pun menggunakan Bahasa Belanda sebagai penjelasnya.

Salah satu foto yang ada di museum

Di museum ini ternyata tak hanya menyimpan foto saja tetapi juga menyimpan benda, foto dan film dokumenter tentang beberapa peninggalan Belanda di akhir tahun 1800-an dan di awal tahun 1900-an di Bantul dan sekitarnya.
Kita juga bisa menelusuri masa ketika Bantul dan Palbapang pernah menjadi pusat kota dan perekonomian. Ada foto yang menggambarkan Stasiun Kereta Palbapang di masa lampau yang menjadi pusat pertemuan kereta dari barat (Pabrik Gula Sewugalur), selatan (Pabrik Gula Gondanglipuro Ganjuran-Dawetan- Pabrik Gula Pundong), dan ke utara (Stasiun Bantul – Stasiun Tugu Jogjakarta).

Bagi Anda yang gemar sejarah, ada juga koleksi foto peresmian Candi Ganjuran, peresmian Gereja Ganjuran yang merupakan jejak Katolik Belanda pada tahun 1924, hingga koleksi benda peninggalan zaman kolonial seperti mata uang, surat, hingga pakaian.
Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Gereja ini merupakan Gereja Katolik Roma yang terletak di Ganjuran Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Namun pada tahun 2006 terjadi gempa yang meruntuhkan segala bangunan yang ada sehingga dibangun ulang dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke X. Gereja ini merupakan inkulturasi budaya Jawa dengan Agama Katolik Roma yang terpancar dari gaya bangunan berbentuk joglo dan berornamen ukiran Jawa.
Tak hanya membangun gereja keluarga Schmutzer juga membangun sarana pendidikan dengan 7 sekolah bagi putra dan sekolah bagi putri pada tahun 1920. Lewat hasil penjualan gula ini mereka juga membangun Rumah Sakit Santa Elisabeth di Ganjuran dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta. Setelah itu 3 tahun kemudian dibangunlah Candi Hindu bernuansa Jawa di dalam kompleks ini yang di dalamnya terdapat Yesus yang digambarkan dalam sosok Jawa. Banyak orang dari lintas agama datang ke tempat ini untuk berziarah dan berdoa serta mengambil air suci yang terdapat di 7 keran di sisi gereja. Bila mereka berziarah tak sedikit pula yang menginap di homestay yang telah di sediakan warga selama beberapa hari. Biasanya mereka membooking melalui booking.com. Selain itu toleransi yang ada di gereja dan lingkungan sekitar yaitu adanya perayaan misa satu tahun sekali yang mengundang 6 tokoh agama (Katolik, Kristen, Muslim, Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan) untuk berdoa bersama di gereja ini.

 Peta Gereja HKTY Ganjuran
 Alat Karawitan di Ganjuran Untuk Mengiringi Misa
Patung Bunda Maria Bernuansa Jawa

Setelah mengunjungi Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus kami kembali ke rumah Bapak Windu Kuntoro untung mendengarkan penjelasan tentang proses pembuatan oleh-oleh khas Ganjuran yaitu madumongso yang dijelaskan oleh ibu Emilia Andriani. Namun dalam pemasaran madumongso itu sendiri masih sangat tradisional dengan menitipkan produk di toko oleh-oleh berskala kecil karena keterbatasan di bidang sumber daya manusia dan promosi digital itu sendiri. Madumongso ini dijual mulai harga Rp7.000,00 per bungkusnya.
 Tempat pembuatan Madumongso

Ibu Emilia sering mendapat tamu dari sekolah-sekolah yang mengadakan live in di desa wisata ini dan salah satu paket yang ditawarkan adalah membuat madumongso. Dan di tempat tersebutlah biasanya mereka berkumpul bersama untuk membungkus madumongso. Madumongso ini dulu terdiri dari beberapa rasa seperti pandan, strawberry, coklat, dll. Namun karena kondisi pasar lebih menyukai rasa original Ibu Emilia memilih untuk berfokus pada produksi dan penjualan madumongso original.
Contoh Madumongso Yang Siap Dipasarkan

Sumber pendukung :
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170526140821-307-217429/desa-wisata-ngringinan-hadirkan-banyak-aktivitas-menarik
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Hati_Kudus_Tuhan_Yesus,_Ganjuran




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar